browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

“Tanggap Dini H7N9” Langkah Strategis Mahasiswa dalam Tanggap Flu Burung Strain H7N9 dan Propaganda Pencegahan pada Masyarakat

Posted by on 18 May 2013

Berbagai pemberitaan di media massa mengenai virus flu burung strain baru H7N9 di China seperti menjadi sebuah “alarm peringatan dini” bagi Indonesia untuk melakukan antisipasi dan pencegahan agar virus ini tidak masuk ke Indonesia. Mahasiswa sebagai insan cendekia yang memiliki kewajiban sebagai pengabdi masyarakat pun tidak harus tinggal diam,perlu peran serta mahasiswa untuk membantu melakukan propaganda pencegahan virus ini menjadi penyakit endemik di Indonesia. Hal inilah yang menjadi latar belakang Departemen Kajian Strategis dan Advokasi BEM FKH untuk menjadi fasilisator bagi mahasiswa IPB khususnya FKH untuk memperoleh segala informasi mengenai flu burung dan pencegahan strain virus H7N9 di Indonesia.

Kajian Seputar Profesi Veteriner (Kepovet) adalah program kerja baru dari departemen Kastrad BEM FKH yang bertujuan meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat melalui isu-isu veteriner. Sehingga pantaslah isu mengenai H7N9 ini diangkat dalam salah satu kajian Kepovet. Acara ini dilaksanakan hari senin 22 April 2013 pukul 16.30-18.00 WIB di Ruang Kuliah B2 FKH IPB. Pemateri dalam acara ini adalah Dr. Drh. Heru Setijanto, PAVet(K), beliau adalah dosen mata kuliah Anatomi di FKH. Beliau juga pernah menjadi ketua pemberantasan flu burung pada saat beliau menjadi Dekan FKH.

Virus flu burung (AI) merupakan penyakit menular yang zoonosis dari unggas. AI yang telah menyerang manusia jenisnya H5N1, H7N7, H9N2, H7N2, dan H7N9. Subtipe H5N1 adalah penyebab flu burung di Hong Kong, Vietnam, Thailand, Kamboja dan Indonesia. Sudah sejak 2003 sampai sekarang virus H5N1 mencapai 192 kasus konfirmasi dan 160 meninggal di Indonesia. Namun kasus pada unggas menurun signifikan dan sudah ada roadmap pengendalian avian influenza di Indonesia (Kementerian Pertanian). Begitupun dengan H1N1 yang dinyatakan pandemi oleh WHO pada 11 Juni 2009, Data kasus Flu H1N1 2009 Indonesia berdasarkan Kementerian Kesehatan tanggal 4 September 2009 (data terakhir) total sebanyak 1.097 dengan 10 kematian di 25 provinsi. Berdasarkan laporan resmi Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE), di negara RRC terjadi kasus wabah Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) di Songjiang, Shanghai tanggal 4 April 2013 pada burung dara, yang disebabkan oleh virus AI subtipe H7N9 yang telah menyebabkan kematian pada manusia dan berpotensi menimbulkan pandemik Avian Influenza ke berbagai negara di dunia. H7N9 bersifat subklinis (tidak menimbulkan gejala sakit) pada unggas, namun mematikan pada manusia. Kasus terakhir 102 konfirm, 20 meninggal (21 April 2013).

Langkah pencegahan penyebaran virus H7N9 masuk ke Indonesia adalah dengan dikeluarkannya, Permentan No. 44/Permentan/OT.140/4/2013 tentang Penghentian Pemasukan Unggas dan/atau Produk Unggas dari Negara RRC ke dalam wilayah negara Republik Indonesia. Namun hal ini menjadi kurang efektif jika tidak ada kerjasama dengan Kementerian Perdagangan yang memiliki otoritas mengenai ekspor-impor di Indonesia.

Dokter heru menjelaskan saatnya berbagai pihak untuk awareness terhadap berbagai kasus AI di Indonesia. Strategi dasar yang diajukan masih sesuai dan perlu dilanjutkan serta diintensifkan plus penajaman: komunikasi dan sosialisasi, restrukturisasi kegiatan usaha peternakan, surveilance : aktif dan terpadu, berbasis partisipasi masyarakat, penanganan virus di sumbernya (unggas): biosekuriti, vaksinasi, dan culling/kompensasi, serta penguatan dan peningkatan pelayanan kesehatan, pelatihan dan simulasi menghadapi wabah (pandemi).

Lalu dimana peran mahasiswa? Langkah awal mahasiswa adalah dengan mengetahui informasi mengenai H7N9, dan membagikan informasi tersebut kepada masyarakat sekitar. Selanjutnya menjadi penggerak masyarakat, tidak (hanya) birokrasi, tidak menunggu perintah, tidak hanya “proyek”, pendekatan ‘kedaruratan’ plus ‘sense of emergency’, ada inisiatif lapangan, ada usaha menciptakan kegiatan; bersifat lokal. Sebagai contoh menjadi inisiator kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan di tingkat RT. Suatu hal yang sederhana namun mulia yang bisa dilakukan mahasiswa, daripada hanya diam tak peduli tanpa aksi nyata.(kastrad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *