browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Festival Tanabata

Posted by on 9 October 2014

Kilas balik Vetzone :
Pohon harapan di MegaMading Vetzone akhir tahun 2012

Bagi teman-teman yang sudah kuliah di FKH pada tahun 2012-2013 pasti pernah tahu daerah Exvetshop? Iya, suatu tempat dimana semua mading (Majalah dinding) dan Informasi berkumpul. Salah satu mading di Exvetshop adalah Mading BEM FKH, dan Vetzone mendapat kesempatan untuk merilis edisi Megamading pertamanya di Mading BEM FKH pada akhir 2012 . Edisi ini terbilang unik dan hemat biaya, karena pencetakan hanya dilakukan sekali dan semua orang dapat membacanya. Tim redaksi Vetzone juga memasang karya-karya pemenang lomba hari Ibu 2012. Pada akhirnya, menurut pengamatan tim redaksi, mahasiswa FKH yang melewati daerah Exvetshop pasti membaca edisi Megamading ini.

1
Vetzone edisi : Mega-Mading

2
Teman – teman yang berkumpul dan membaca mading di Exvetshop

Namun ada satu hal lain yang spesial di Megamading ini, yaitu Pohon Harapan. Bisa kalian lihat, yaitu pohon kering dengan kertas berwarna-warni yang berada di bagian kanan Mading BEM FKH. Lalu apa itu Pohon Harapan? Tim Vetzone mengadaptasi pohon harapan dari Tanabata Matsuri, Festival Bintang yang diadakan setiap tanggal 7 Juli di Jepang. Festival Bintang (Tanabata) berasal dari Cina dan diperkenalkan ke Jepang pada periode Nara (710 – 784). Saat periode Heian (794 – 1192) acara ini menjadi sebuah perayaan bagi anak-anak dan remaja putri yang mengharapkan bertambahnya kepandaian mereka dalam menjahit, merajut, kaligrafi, origami, dan kerajinan tangan lainnya.

Festival Tanabata berasal dari suatu legenda yang mengisahkan percintaan antara bintang Vega sebagai Orihime, putri raja langit yang pandai menenun dan bintang Altair sebagai Kengyuu, seorang penggembala sapi. Lalu, Raja langit merestui pernikahan Kengyuu dan Orihime. Namun setelah menikah Orihime tidak lagi menenun dan Kengyuu tidak lagi menggembalakan sapi. Raja langit marah mengetahui hal ini dan memisahkan keduanya diantara sungai Ama no gawa (galaksi bima sakti), dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali, yaitu 7 Juli. Namun jika tanggal 7 Juli hujan, Orihime dan Kengyuu tidak dapat bertemu. Agar hari itu tidak hujan, mereka berdoa kepada Raja langit dengan menuliskan sajak berupa harapan di kertas warna-warni (Tanzaku) dan menggantungkannya di pohon bambu (Sasa). Karena itu, lahirlah budaya pohon harapan pada Festival Bintang di Jepang.

3
Pohon Harapan : Adaptasi dari pohon bambu di Tanabata Matsuri

Tim Vetzone mengadaptasi budaya ini untuk meramaikan Megamading Vetzone dan memanfaatkan pohon kering yang tidak terpakai lagi. Walaupun mengadaptasi budaya jepang, pada akhirnya kita tetap harus menggantungkan doa dan harapan pada Tuhan.
Tim Vetzone juga sudah mendokumentasikan semua kertas harapan, dan minggu depan akan mempublikasikannya di sini untuk kilas balik. Siapa tahu salah satu Vetzoners pernah menggantungkan kertas harapan yang akhirnya sudah terkabulkan atau sedang berusaha menggapainya.

Sampai jumpa minggu depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *