browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

PRESS RELEASE “KASET KUSUT” – Penggunaan Antimikrob yang Bijak, Rasional, dan Bertanggung Jawab

Posted by on 29 May 2017

Selamat Pagi, Viva Veteriner!

Fakultas Kedokteran Hewan IPB khususnya dari Departemen Kajian Strategis dan Advokasi FKH IPB dan Departemen Kajian Strategis IMAKAHI IPB telah mengadakan sebuah kegiatan dari rangkaian “World Veterinary Day” berupa Kaset Kusut (Kajian Seru Veteriner Kupas Tuntas Suatu Tema) tentang “Penggunaan Antimikrob yang Bijak, Rasional, dan Bertanggung Jawab”. Tema yang diusung dalam WVD kali ini adalah “Antimicrobal resistance – From Awareness to Action”. Kaset Kusut diadakan pada hari Kamis, 20 April 2017 di RKA pada pukul 16.20-18.00 WIB. Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 74 peserta dari mahasiswa FKH dan luar FKH. Setelah kajian diadakan untuk melihat antusias dari masyarakat umum dan universitas lain, maka diadakan kajian Online via Whatsapp yang dimoderatori oleh Ujang Sunandar dari pukul 19.00-21.00 dengan tema yang sama, kajian online diikuti oleh 50 peserta online dan diskusi yang sangat baik dari peserta.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC, yaitu Ujang Sunandar. Rangkaian acara selanjutnya yaitu sambutan dari Ketua PC IMAKAHI Fika Syawalika dan Sambutan Ketua BEM FKH IPB Kabinet Transformasi Usamah Habibullah. Dan penyampaian materi oleh Dr. Drh. Andriyanto, Msi lalu ada sesi diskusi. Acara ditutup dengan closing statement dari Dr. Drh. Andriyanto Msi, pemberian sertifikat dan bingkisan serta pembagian doorprize bagi semua penanya dan pembacaan doa.

Legal aspek sangat dibutuhkan dalam dunia perobatan, terutama untuk pembelajaran harus menggunakan aspek undang-undang, praktis, dan teoritis. Ketika penggunaan obat digunakan dalam pembelajaran, secara keilmuan contohnya dengan hormon, misal dengan progesteron dan dexametason yang mempunyai fungsi memacu sintesis protein serta meningkatkan hormon kelamin dalam pasal 22 ayat 20c dilarang mencampur bahan pakan didalam makanan. Menurut UU No 41 tahun 2014 pasal 1 ayat 39,”0bat Hewan adalah sediaan yang dapat digunakan untuk mengobati Hewan, membebaskan gejala,atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh yang meliputi sediaan biologik,farmakoseutika,premiks, dan sediaan Obat Hewan alami”.

Tujuan pemberian obat yaitu menetapkan diagnosis dan memperbaiki produksi, mencegah penyakit,  menyembuhkan penyakit, membrantas penyakit, mengurangi gejala penyakit (analgesik), depresan dan anastesi, serta memperelok.

Syarat obat secara garis besar ada 3 berkhasiat (memiliki khasiat sesuai dengan indikasi) , Jangan sampai berkhasiat tapi residunya berbahaya, bermutu (memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan), dan aman (bagi manusia, hewan, dan lingkungan), ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan dan semuanya saling berkesinambungan.

Jenis obat hewan harus tahu klasifikasinya. Klasifikasi ada 4 (untuk obat hewan) Farmakoseutika (penisilin-sefalosporin), biologik, Premiks (sebelum digunakan dicampurkan ada feed aditif dan feed suplemen contohnya probiotik, prebiotik) , dan bahan alami (jamu,ekstrak,herbal)

Seringkali kita keliru antara Antimikrob dan juga Antibiotik, antimikrob dapat diartikan sebagai bahan atau obat pembasmi mikrob, khususnya yang merugikan manusia sedangkan antibiotik  yaitu senyawa yang dihasilkan mikroorganisme dalam konsentrasi kecil mempunyai kemampuan menghambat atau membunuh mikroorganisme lain. Antibiotik bersifat membunuh bakteri tapi tidak dengan hostnya.

Ada golongan beta laktam, polimsin, sulfatrimet, ribosom di sekuen 50 makrolida dan aminoglikosida, quinolony yang bekerja pada target organnya masing-masing seperti dinding sel, ribosom, dll. Menurut (Giguere et al 2007) penggunaan antibiotik sesungguhnya dipergunakan untuk 3 hal penting ini yaitu terapi, subterapi, pemacu pertumbuhan (AGP) untuk mencegah bakteri merugikan dan pencernaannya jadi lancar, disinyalir untuk resistensi antibiotik di hewan hanya untuk terapi. Misalnya ada dihewan untuk subterapetik.

Gambaran singkat antibiotik yang teregistrasi di Indonesia 60% tunggal (penisilin saja) tapi peternak dan pengusaha tidak mau hanya 1 antibiotik, maka antiiotik diberi kombinasi. Misal amoxilin dan holistin ada 39%, dan yang menggunakan dengan tiga kombinasi ada 1%. Antibiotik yang paling banyak digunakan adalah enrofloksasin, menurut pembagian eropa tingkat bahanya dibagi menjadi tiga yaitu, antibiotik yang dipakai manusia tidak boleh ke hewan, antibiotik digunakan hewan dan manusia, antibiotik yang digunakan untuk hewan saja.

Kombinasi dua yg paling banyak diginakan adalah Sulfa dan trimetropin 40% biasa untuk koksidiosis. Penyakit yang paling sering muncul menurut FAO adalah CRD, menduduki peringkat pertama. Antibiotik yang biasa digunakan adalha doksisiklin dan eritromisin. Apakah di Farm saat dilakukan pemberian antibiotik? Sebanyak  90.9% menjawab farm diberikan antibiotik dan treatment. DOC yang diberikan antibiotik, harus diberikan antibiotik sebagai pencegahan 30%, 20% pada usia 12 hari, apa anda tahu withdrawaltime? 50% tahu dan 50% tidak tahu. Pencampuran sendiri ke dalam pakan ternak, tidak mengikuti aturan dosis dan tidak sesuai indikasi penyakit, pencampuran tunggal atau kombinasi antibiotik.

Drug abuse dan Drug Misuse

Praktik swamedikasi, meghentikan penggunaan antibiotik begitu gejala berkurang, memberikan antibiotik kepada tetangga atau orang lain, Antiiotik tanpa resep 80% di ternak, manusia 64,3% Data resistensi di Indonesia 10 jenis yang diuji ampicillin, amoxcillin, cephalotin, cefriaoxone, pada survey pekerja kandang

Fakta lapangan  residu masih ada kesulitan penanggulangan pasca operasi, chlorampenicol udah resisten. Bijak, bertanggungjwab dan rasional. Masalahnya resistensi meningkat penemuannya menurun.

Penyebabnya ada 3, overuse,misuse penggunaan yang salah, belum sembuh sudah berhenti penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik bijak, rasional, dan bertanggung jawab dapat dilakukan dengan Tepat diagnosis dan tepat indikasi, sesuai dengan indikasi penyakit, tmpat pemilihan obat, tepat dosis, tata cara pemberian, tepat interval waktu, tepat lama pmberian, waspada terhadap efek samping obat, tepat informasi, tepat penilaian kondisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *